KEMATIAN, DUKACITA ATAU SUKACITA
Tulisan yang berjudul Pandangan Kristen tentang Kematian, Dukacita atau Sukacita ini merupakan realitas kematian. Setiap manusia hidup akan mendapat giliran untuk mati. Seperti apakah pengalaman kematian itu? Perjumpaan dengan orang yang kita kasihi akan berakhir dengan perpisahan oleh kematian. Sanggupkah kita mengobati pedihnya sengat kematian? Pdt. Yusman Liong pernah mengatakan bahwa "kemampuan menghadapi kematian tergantung pada kemampuan menghadapi kehidupan melalui perspektif yang tepat. Jika pembaca adalah seorang Kristen, tulisan ini akan menghibur anda dalam menghadapi hari-hari penuh kesedihan karena ditinggalkan orang-orang terkasih, juga akan memberi pengertian pada anda apa makna kematian bagi seorang Kristen. Jika pembaca bukan orang Kristen, anda akan memahami mengapa selama berabad-abad telah demikian banyak orang yang menjadi Kristen dan memperoleh kedamaian serta mempunyai tujuan hidup melalui Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit dari antara orang mati.
KEMATIAN
Manusia merupakan dewa yang buruk. Seseorang tidak pernah akan merasa lebih yakin akan hal ini dari pada saat sebelum ia mati. Memuja dirinya sendiri menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkannya dalam kehidupan, tetapi kelakuan ini tidak akan berarti ketika dia menghadapi kematiannya. Kematian melenyapkan segala kemampuan manusia.
Kematian adalah suatu yang belum dimengerti oleh manusia, sesuatu pengalaman yang tidak dapat terjejaki. Manusia merasa tidak aman dan tidak berdaya bila menghadapi hari kematian, musuh yang begitu menakutkan, musuh yang tidak memandang usia, kekayaan maupun kedudukan. (Gladys Hunt, 01)
Para penyair dan ahli filsafat menyelidiki misteri kematian dengan menciptakan gambaran dalam imajinasi mereka tentang betapa kabur, gelap dan tak terelakkan kematian itu. Dan menjadi pertanyaan kita. Mengapa penyair selalu menulis tentang Kematian? Karena kematian merupakan peristiwa yang terlalu besar dan kematian merupakan peristiwa terbesar dalam kehidupan manusia sehingga terdorong untuk menyelidikinya.
Dalam sebuah cerita yang diceritakan oleh Pdt. Yureman Wanimbo berjudul "Kematian Menakutkan" memberi komentar. "Tak mengerti aku kenapa manusia mesti gentar ketika maut datang menjemput. Bukankah kematian itu tempat tujuan di mana kita harus sampai..." sedangkan menurut Pdt. Pulias Kiwo, bahwa "manusia takut akan kematian seperti anak-anak takut pergi ke tempat gelap. Dan sebagaimana rasa takut alamiah pada anak-anak makin besar dengan mendengar dongeng-dongeng, demikian juga rasa takut akan maut pada manusia dewasa bertambah bila mereka mendengar cerita-cerita tentang Kematian " dan kita bisa memakai ungkapan-ungkapan lain seperti.
Kematian adalah musuh yang tak dapat dielakkan, kematian adalah tamu yang tak diundang. Kematian adalah musuh yang kejam.
Jika hidup kita ini membingungkan, bagaimana dengan kematian dan jika kematian itu tidak penting, bagaimana dengan hidup ini? Nilai hidup kita tergantung pada pikiran kita mengenai kedua hal tersebut diatas.
Pendeta-Pendeta yang mempercayakan dirinya pada pikiran rasional yang pernah populer itu, telah kehilangan arahnya juga. Karena meragu-ragukan konsep Alkitabiah mengenai hidup sesudah mati, mereka tidak dapat memberi harapan kepada kepada jemaat yang sedang menghadapi kematian.
Saya juga tidak mampu memberikan keterangan untuk menghilangkan penderitaan yang disebabkan oleh kematian, yaitu menulis tentang kematian sedemikian rupa dengan maksud menghancurkan kekuatannya. Bahkan, saya tidak dapat menjelaskan tentang kematian, tidak ada orang yang sanggup melakukannya. Yang terbaik yang kita lakukan adalah melihat kematian dengan perspektif Alkitab seperti Rasul Paulus menulis dengan sangat yakin bahwa kita tidak perlu berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai harapan (1Tes 4:13; 1Kor 13:12)
DUKACITA
Dukacita adalah perasaan mencengkam. Dia telah mati. Sebuah kenyataan yang sukar diterima. Tidak ada seorangpun yang pernah berkata pada saya bahkan dukacita terasa seperti ketakutan.
Dukacita adalah perasaan tegang bercampur bimbang. Seperti sedang menantikan apa yang tak pernah akan terjadi. Seolah-olah waktu tidak berjalan terus. Dukacita adalah seperti kapal yang telah dilepaskan hambatannya dan terkatung-katung di laut jauh dari darat.
Kesedihan merupakan emosi wajar yang seharusnya tidak mempermalukan atau membuat kita merasa tidak berdaya. Dukacita adalah seperti suatu perjalanan dimana seseorang harus melalui tepian gunung yang melingkar sambil menyaksikan pemandangan yang sama berkali-kali akhirnya membawa kita ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi.
Dukacita merupakan suatu hal yang sangat pribadi. Terlalu besar untuk dipikul sendiri tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar sanggup menolong, seolah-olah pintu sorga tertutup sehingga tangisan kita tidak terdengar oleh Allah. Kita ingin berteriak kepada TUHAN mengenai ketidakadilan yang DIA biarkan terjadi dengan kematian orang yang kita kasihi.
Kesedihan dapat mengucapkan hal-hal yang harus kita utamakan, kadang kita memikirkan diri sendiri, meskipun kita tidak ingin dikatakan demikian. Kita bertemu dengan orang yang sedang bersedih, tetapi kesedihan mereka tidak seperti kesedihan kita. Artinya tidak mungkin kesedihan kita bandingkan dengan kesedihan orang lain.
Dukacita membuat kita malas. Kita tidak suka berteman dengan orang lain, tidak berencana lagi, tidak mau berpikir lagi, tidak mau makan dan tidak mau bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Kita membutuhkan kasih sayang dan penghiburan serta pengertian untuk mengubah perasaan sedih kita.
SUKACITA
Teman saya telah meninggal dunia karena virus HIV AIDS beberapa tahun yang lalu. Banyak sekali menyanyikan lagu penghiburan, berdoa untuk kesembuhan merasa terpukul dan khotbah yang menguatkan. Kabut kelam menjadi hilang, kami merasa seperti pagi hari, mata hari bersinar di atas dedaunan, seperti bunga yang berkelap kelip.... Perasaan ini bagaikan nyanyian yang merdu dan pujian di dalam hati untuk bisa mengatakan Tuhan telah buat sesuatu.
Allah telah bertindak terhadap kematian. Allah telah bertindak untuk menebus kita dari kematian rohani dan kematian jasmani. Bukannya berarti kita tidak merasa sedih lagi atas kematian orang yang kita kasihi. Rasa kehilangan tetap ada, tetapi kabutnya telah hilang. Kematian merupakan salah satu kenyataan hidup karena dosa juga adalah salah satu kenyataan hidup.
Yesus Kristus datang mengalahkan dosa, mati dan bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan Yesus Kristus memberikan kepastian dan mendatangkan hidup kekal yang tidak dapat binasa (2Tim 1:10)
Dalam perspektif Alkitab kematian bukan menjadi dukacita tetapi menjadi sukacita. Kematian bukan akhir dari hidup, tetapi setelah kematian ada kehidupan kekal. Hidup di dunia ini hanyalah sementara, numpang atau mampir sebentar saja.
KESIMPULAN
Kematian adalah pokok yang sulit untuk dibahas. Kematian adalah suatu pengalaman yang luar biasa sulit dihadapi. Kematian tidak dapat dihindarkan. Tetapi kematian merupakan jalan menuju kemenangan, betapa menghibur nya kita yang percaya kepada Kristus. Penulis surat Ibrani yang mengatakan bahwa Kristus datang untuk membebaskan dari seumur hidup (Ibrahim 2:15)
Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu? (1Kor 15:51-55)
Ya Tuhan dan Allah kami,Engkau layak diterima puji-pujian dan hormat dan kuasa (Wahyu 4:11)
Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan (Wahyu 14:13)
Penulis: Ev. Pither P. Karoba
Referensi:
- Hunt, Gladys. Pandangan Kristen tentang Kematian. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017
- Diktat kuliah Kitab Wahyu, 2018
- Brill, J. Wesley. Dasar Yang Teguh. Bandung: Kalam Hidup, 2008
- Diskusi. Apakah Kematian Sukacita atau Dukacita. Timika:2020.
- Dll.